Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan Budaya dan Adat Istiadat

Perbedaan budaya dan adat istiadat memang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hal itu dialami sepasang suami istri asal India yang tinggal di Norwegia. Badan Perlindungan Anak Norwegia merampas kedua anak balita pasangan Anurup dan Sagarika Bhattacharya. Pasangan itu kehilangan hak asuh atas dua bocah usia satu dan tiga tahun itu setelah mereka dituduh melakukan hal tidak pantas terhadap anak-anak mereka. Pola asuh "tidak pantas" itu adalah menyuapi anak tanpa menggunakan sendok serta tidur di ranjang yang sama dengan kedua buah hati mereka.

Tindakan ekstrem Norwegia itu memaksa pemerintah turun tangan untuk menangani kasus itu dan menghubungi pihak berwenang Norwegia agar mengembalikan kedua bocah itu pada orangtua mereka, seperti dilansir Mail Online, Kamis (19/1/2012). Badan Perlindungan Anak mengambil kedua balita itu dari rumah mereka pada Mei 2011. "Mereka bertanya pada saya 'mengapa kalian tidur satu ranjang dengan anak-anak'," kata Anurup, kepada televisi India NDTV.

"Saya menjawab mereka bahwa ini hanya masalah budaya. Kami tidak mungkin meninggalkan anak-anak di kamar lain lalu mengucapkan selamat tidur," lanjut lelaki itu. Anurup menambahkan, "Menyuapi anak dengan tangan (tanpa sendok) adalah tradisi India yang normal dan kalau ibunya menyuapi menggunakan sendok ada kalanya yang disuapkan terlalu banyak."

"Mereka bilang itu memberi makan secara paksa. Pada dasarnya, ini adalah masalah perbedaan budaya," katanya. Soal pengaturan tidur juga menjadi masalah bagi Badan Perlindungan Anak. Menurut Sagarika, putra mereka yang berusia tiga tahun tidur dengan Anurup. "Mereka bilang anak itu harus tidur terpisah dari ayahnya," ujar sang ibu.

Akibat pola asuh yang menurut pandangan Norwegia tidak pantas itu, pasangan Bhattacharya hanya boleh bertemu dengan anak-anak itu selama satu jam, dua kali dalam setahun hingga mereka berusia 18 tahun. Setelah usia 18 tahun, anak-anak itu tidak terikat pada undang-undang perlindungan anak Norwegia.

Intervensi pemerintah India tampaknya tidak mempan. Badan Perlindungan Anak Norwegia berkeras pada keputusan mereka dan menolak permintaan bertemu pihak India untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Badan Perlindungan Anak Norwegia mendapat kritik tajam karena kerasnya tindakan mereka dalam menangani kekerasan terhadap anak.

"Ada laporan di Perserikatan Bangsa-bangsa pada 2005 yang mengkritik Norwegia karena menempatkan terlalu banyak anak di tangan negara," kata Svein Kjetil Lode Svendsen, seorang pengacara. Jumlah mereka 12.500 dan Norwegia adalah negara kecil," lanjutnya. Masa berlaku visa keluarga Bhattacharya berakhir Maret ini. Namun mereka akan terpaksa tinggal di Norwegia sampai anak-anak itu dikembalikan.